Sungai Penuh – Harga plastik dan berbagai barang berbahan plastik di Kota Sungai Penuh mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan harga ini dipicu faktor geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada pasokan bahan baku industri plastik.
Kenaikan tersebut dikeluhkan para pedagang dan pembeli di pasar tradisional. Selain memicu penurunan daya beli, kondisi ini juga berpotensi meningkatkan harga pokok berbagai produk yang menggunakan plastik sebagai bahan utama maupun kemasan.
Salah seorang pedagang plastik di Pasar Sungai Penuh, Novet, mengungkapkan bahwa lonjakan harga terjadi cukup drastis, berkisar antara 50 hingga 100 persen dalam beberapa hari terakhir.
“Naiknya bervariasi, tapi hampir semua jenis plastik ikut naik, terutama yang berbahan PE dan PP,” ujarnya.
Ia menjelaskan, plastik jenis PE (polyethylene) umumnya digunakan untuk kantong plastik, botol, hingga kemasan makanan karena sifatnya fleksibel dan ringan. Sementara PP (polypropylene) memiliki karakter lebih kuat dan tahan panas, sehingga banyak dimanfaatkan untuk wadah makanan, tutup botol, hingga peralatan rumah tangga.
Menurut Novet, kenaikan harga ini tidak lepas dari ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor, khususnya nafta yang sebagian besar didatangkan dari kawasan Timur Tengah.
“Dampak konflik Iran–AS sangat terasa. Bahan baku jadi terganggu, otomatis harga ikut naik,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah dapat segera mencari alternatif sumber pasokan dari negara lain guna menekan dampak kenaikan yang lebih luas terhadap sektor industri dan perdagangan.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh salah seorang pembeli, Pak Dani. Ia mengaku kenaikan harga plastik sangat berpengaruh terhadap usahanya, terutama dalam menentukan harga jual produk.
“Kalau harga plastik naik, otomatis biaya produksi ikut naik. Ini pasti berdampak ke harga barang yang kami jual,” katanya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, kenaikan harga plastik dikhawatirkan akan merembet ke berbagai sektor, mulai dari industri makanan, UMKM, hingga perdagangan eceran di pasar tradisional.
Dewi Wilonna











