JAMBI – Pemerintah Kota Jambi terus berkomitmen dalam mendorong ketahanan pangan daerah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur.
Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah, dengan penanaman cabai secara masif dan penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia senilai Rp3,8 miliar.
Walikota Jambi, Dr dr H Maulana, MKM, menyampaikan bahwa, kegiatan ini melibatkan berbagai kelompok tani, baik kelompok wanita tani (KWT) maupun kelompok tani umum yang telah aktif mengelola lahan kurang produktif milik pemerintah kota.
“Lahan tidur seluas kurang lebih 7 hektare yang dulunya tidak dimanfaatkan, kini sudah berubah menjadi lahan produktif,” kata dia.
“Ini adalah bentuk konkret dari program ketahanan pangan yang juga mendukung visi besar Presiden Republik Indonesia,” ujar Maulana dalam acara penyerahan bantuan alsintan, Selasa (1/10).
Maulana juga menjelaskan bahwa, cabai dipilih sebagai komoditas utama karena pernah menjadi salah satu penyebab utama inflasi di Kota Jambi.
Oleh karena itu, pengembangan tanaman cabai kini menjadi fokus dalam upaya pengendalian inflasi sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Jambi bersama Kementerian Pertanian RI dan didukung oleh Bank Indonesia serta BPR MP menyerahkan berbagai jenis alsintan kepada kelompok tani.
Bantuan tersebut meliputi traktor roda dua dan empat, mesin semprot, hingga pompa air.
Selain itu, dukungan bibit juga terus diberikan secara berkala.
“Kita tinggal mendorong para petani agar tetap semangat. Masyarakat yang memiliki lahan tidur bisa bekerja sama dengan kelompok tani untuk memanfaatkannya,” terangnya.
“Ini bukan hanya soal pertanian, tapi soal ekonomi masyarakat,” tambah Maulana.
Ia juga menyebutkan akan mendorong aparatur sipil negara (ASN), untuk membeli hasil pertanian lokal guna menjamin pasar dan keberlangsungan usaha tani.
Menurutnya, jika panen cabai mencapai 9 ton dan setiap ASN membeli satu kilogram saja, hasilnya sudah sangat signifikan.
Lebih lanjut, Maulana mengajak generasi muda, khususnya kelompok milenial, untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian.
Ia menegaskan bahwa, pertanian saat ini sudah mengadopsi sistem modern dan teknologi canggih.
“Banyak kelompok tani yang sudah menggunakan sistem urban farming seperti hidroponik, pemanfaatan pekarangan rumah, hingga penggunaan alsintan modern,” jelasnya.
“Ini menunjukkan bahwa pertanian sekarang bukan lagi pekerjaan tradisional, tetapi bisa menjadi profesi yang menjanjikan,” tutupnya.(zen/enn)











