Jambi – Pembangunan Islamic Centre Jambi yang telah selesai 100% secara fisik pada tahun 2024 saat ini menjadi sorotan publik setelah terjadi kebocoran atap masjid saat hujan deras.
Menyikapi dinamika ini, Pemerintah Provinsi Jambi bersama DPRD memastikan bahwa tidak ada masalah substansial yang menyangkut mutu maupun volume konstruksi bangunan tersebut.
Dari perspektif teknis, kebocoran yang terjadi dikategorikan sebagai gagal bangunan, bukan gagal konstruksi. Hal ini penting untuk diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman publik dalam menilai kualitas proyek tersebut.
“Kebocoran atap akibat hujan deras adalah masalah teknis yang masuk dalam masa pemeliharaan dan menjadi tanggung jawab kontraktor hingga Januari 2026. Ini bagian dari proses normal dalam dunia konstruksi dan akan segera diperbaiki,” ujar Pengamat sosial Cnddt Doktor Asari Syafi’i S.Pd.M.H.
Sementara itu, kritik dan masukan dari elemen masyarakat dan penggiat demokrasi di Jambi tetap diapresiasi sebagai bentuk partisipasi publik. Pemerintah daerah menegaskan bahwa seluruh kritik akan menjadi bahan evaluasi dalam rangka penyempurnaan pembangunan dan pelayanan publik.
Mengacu pada Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Perwakilan Jambi tahun 2025, memang terdapat catatan administratif berupa kelebihan bayar senilai Rp 2,7 miliar. Namun, tidak ditemukan kekurangan mutu maupun volume pekerjaan.
“Temuan BPK bersifat administratif dan akan segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak ada temuan kerusakan struktural atau kesalahan fatal dalam pembangunan Islamic Centre,” tambahnya.
Adapun tambahan anggaran sebesar Rp 27 miliar pada tahun 2025 yang sempat menjadi sorotan, merupakan bagian dari proses penyempurnaan fasilitas pendukung dan aksesoris bangunan, bukan untuk memperbaiki kerusakan. Proses penganggarannya telah melalui mekanisme resmi dan sesuai aturan yang berlaku.
Islamic Centre Jambi yang terletak di kawasan Taman Rimba, tepat di depan Bandara Sultan Thaha, dirancang sebagai pusat keagamaan, budaya, dan penggerak ekonomi masyarakat. Selain menjadi tempat ibadah, Islamic Centre diharapkan menjadi magnet baru bagi pertumbuhan UMKM dan sektor wisata religi di Provinsi Jambi.
Dari sisi filosofi, keberadaan Islamic Centre mencerminkan visi besar Jambi Mantap dalam membangun masyarakat religius yang sejahtera secara sosial dan ekonomi.
Pemerintah Provinsi dan DPRD Jambi terus berkomitmen menyempurnakan apa yang sudah dimulai melalui Jambi Mantap 2, dengan menyerap seluruh aspirasi masyarakat dan menjaga transparansi dalam setiap tahapan pembangunan.
“Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga suasana yang kondusif, demi kelancaran program pembangunan. Kritik akan menjadi bahan introspeksi, dan kami terbuka terhadap semua saran demi kemajuan Jambi,” tutup Pengamat sosial Cnddt Doktor Asari Syafi’i S.Pd.M.H.











