Tampil Memukau, Perwosi Jambi Kembali Juara Senam Kreasi Nasional Polri Peduli Kasih, Satbrimob Polda Jambi Salurkan Bantuan ke Panti Asuhan Muhammadiyah  Sidak Gabungan dan Tes Urine, Rutan Kelas I Tangerang Tegaskan Komitmen Zero Halinar Bapemperda dan Banggar DPRD Muaro Jambi Kunker ke DPRD Kabupaten Bogor, Bahas Regulasi dan Anggaran Perubahan 2026 Rutan Tangerang Terima 300 Buku Dari Ditjenpas, Dorong Peningkatan Literasi Warga Binaan

Home / Berita

Senin, 10 November 2025 - 20:30 WIB

Harus Peka, Berhenti Normalisasi KDRT Mencuat Dalam Diskusi Dengan Preview Film Suamiku, Lukaku

 

Yogyakarta – Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) bekerjasama dengan SinemArt serta Museum Omah Jayeng dan Garin Art Lab pada Minggu, 9 November 2025 bertempat di Museum Omah Jayeng, Yogyakarta menggelar diskusi beretema “KDRT di Sekitar Kita, Apa Yang Harus Dilakukan?” dengan preview atau pratinjau film yang digarap SinemArt berjudul “Suamiku, Lukaku”.

 

Pratinjau film “Suamiku, Lukaku” selama 15 menit menjadi konfirmasi bagi hadirin tentang realita bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ada di sekitar kita, bahkan mungkin lebih parah dari apa yang berusaha ditangkap melalui film ini.

 

Dalam diskusi pasca pratinjau filam Suamiku, Lukaku, hadir Setawijaya yang merupakan ketua Yayasan Museum Omah Jayeng yang juga pengajar di Akademi Film Yogyakarta (AFY), Sharad Sharan selaku produser dan sutradara film Suamiku, Lukaku serta Nurmawati yang aktif melakukan aktivitas pencegahan KDRT dari Rifka Annisa Women’s Crisis Center (WCC) sebagai penanggap diskusi yang dimoderatori oleh Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Lia Nathalia.

 

“Terus terang saya _shock_ melihat secara eksplisit seperti itu,” kata Setawijaya menanggapi film “Suamiku, Lukaku” yang rencana akan tayang di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia sekitar kwartal pertama 2026.

 

Film “Suamiku, Lukaku” menampilkan Boim Wong yang beradu peran dengan Acha dikombinasikan dengan akting dari Ayu Azhari, Raline Shah, dan Mathias Muchus tentu layak untuk layak untuk dinantikan kehadirannya.

 

“Adegan-adegan yang Anda lihat itu semua dari kisah true story, tidak ada satu sceen pun yang imajinasi,” kata Sharad seraya menggambarkan parahnya kasus KDRT yang ia ketahui di negara-negara tenpat ia pernah bermukim seperti di India, Malaysia, Singapura, dan bahkan Indonesia.

 

Menurutnya umumnya banyak perempuan menjadi korban KDRT, namun banyak orang memilih diam terhadap kasus-kasusu ini.

BACA LAINNYA  Danrem 042/Gapu Hadiri Pembukaan Festival Batanghari Karisma Event Nusantara

 

“Melalui film ini saya ingin berbuat sesuatu untuk perempuan. Mereka adalah generator dari kemanusiaan,” kata Sutradara film Pura-Pura Nikah

 

Sharad menambahkan bahwa di film “Suamiku, Lukaku” setidaknya ada lima jenis KDRT yang coba digambarkan. Silain itu juga akar penyebab KDRT disinggung.

 

Sementara Nurmawati dari Rifka Anisa WWC mengakui bahwa perempuan sebagai korban KDRT memang masih berada di puncak tertinggi data, baik global mau pun di lingkup Yogyakarta..

 

“Ada dominasi laki-laki. Itu bukan salah laki-laki, tapi factor budaya yang kita kenal dengan budaya patriarki, yang mana budaya ini memposisikan laki-laki itu manusia yang lebih unggul, inferior dan perempuan itu yang superior. Jadi ada ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan,” kata Nurmawati tentang hal mendasar penyebab KDRT umumnya.

 

“KDRT paling tinggi adalah kekerasan terhadap istri,” Nurmawati menggarisbawahi.

 

Sayangnya sampai saat ini para korban KDRT banyak yang belum berani melaporkan kekerasan yang dialaminya karena beragam pertimbangan, termasuk soal ekonomi dan status sosial di masyarakat.

 

Sharad Sharan menyampaikan bahwa proses pembuatan film “Suamiku, Lukaku” melibatkan perempuan di semua proses termasuk sutradara, juru kamera dan lain-lain adalah perempuan dan para aktor yang berperan adalah yang diyakini sangat kuat karakternya.

 

Film “Suamiku, Lukaku” menjadi film yang dapat menjadi salah satu media edukasi untuk melakukan pencegahan KDRT.

 

 

Latar Belakang

 

Film dengan Tujuan

 

Disutradarai oleh Sharad Sharan, Suamiku Lukaku diperkuat oleh jajaran pemain ternama, di antaranya Ayu Azhari, Acha Septriasa, Baim Wong, Raline Shah, dan Mathias Muchus.

 

Setiap bintang membawa pengaruh dan suaranya untuk memperkuat pesan mendesak film ini, bahwa tidak ada perempuan yang boleh dibungkam, dimarginalkan, atau terjebak dalam lingkaran kekerasan di rumah tangga mereka.

BACA LAINNYA  Gelar Walimatus Safar Haji, Danrem 042/Gapu dan Isteri Akan Tunaikan Rukun Islam Kelima

 

Tantangan yang Kita Hadapi

 

Indonesia masih bergulat dengan tingginya angka kekerasan berbasis gender. Menurut laporan Komnas Perempuan 2023, tercatat terdapat lebih dari 339.000 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan mayoritas terjadi di ranah domestik. Para ahli menekankan bahwa jumlah tersebut kemungkinan jauh lebih tinggi, karena banyak korban memilih untuk diam akibat stigma, ketakutan akan balasan, dan keterbatasan akses pada dukungan hukum maupun sosial.

 

Diamnya para korban merupakan tantangan terbesar yang justru memperpanjang siklus kekerasan dan marginalisasi. Memutus rantai ini membutuhkan bukan hanya keberanian dari para penyintas, tetapi juga solidaritas dari komunitas, media, dan para pemimpin.

 

Sebuah Kesempatan Transformasional

 

Film “Suamiku, Lukaku” melampaui hiburan biasa. Film ini adalah seruan untuk bertindak bagi para legislator, pemimpin masyarakat, dan warga negara. Dengan menyoroti realitas KDRT, sekaligus menggambarkan jalan menuju ketahanan. Film ini bertujuan untuk

meningkatkan kesadaran tentang epidemi tersembunyi di Indonesia, yakni KDRT.

 

Selain itu banyak orang tercerahkan dan mau mendorong para penyintas untuk berani bersuara dan mencari perlindungan tanpa rasa takut, Film ini juga diharapkan dapat menginspirasi pembuat kebijakan untuk memperkuat hukum dan sistem dukungan bagi korban.

 

Diharapkan film Suamiku, Lukaku dapat menyatukan masyarakat dalam misi bersama untuk menegakkan keadilan, martabat, dan kesetaraan bagi korban KDRT.

 

Diharapkan film ini menjadi awal baru dari gerakan nasional transformasional, di mana cerita menjadi pemicu perubahan dan seni menjadi penopang kehidupan bagi jutaan perempuan.

 

Bersama, melalui Suamiku Lukaku, Indonesia dapat memberdayakan perempuan untuk hidup bebas dari rasa takut dan merebut kembali suara mereka yang sejati di tengah masyarakat.

 

Zainal

Share :

Baca Juga

Berita

Wabup Katamso Pimpin Upacara Hardiknas 2026 di Tanjab Barat

Berita

Tempat Wisata Air Terjun Telun Berasap Kena Longsor, Dinas Pariwisata : Semetara Bagian Bawah Ditutup

Berita

Dandim  dan Forkopimda Tanjab Barat Ikuti Peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih oleh Presiden Prabowo

Berita

BMKG: Waspada Gelombang Tinggi hingga 4 Meter

Berita

Sinergi Spiritualitas dan Kepedulian: Polres Pidie Jaya Gelar Binrohtal dan Santunan Anak Yatim

Berita

Polsek Kotabaru Tertibkan Dugaan Pelangsiran BBM Solar di SPBU Pall 7

Berita

Hadiri Peringatan Hari Santri tahun 2024, Ini Harapan Anggota DPRD Muaro Jambi Asikin kepada para Santri

Berita

Kapolres Sarolangun Imbau Warga Waspada Aplikasi Berbahaya, Jangan Tergiur Aplikasi Gratis Yang Beriming Keuntungan