DPRD Muaro Jambi Bahas Ranperda Perubahan APBD 2026 Polda Jambi Buka Ruang Inovasi Mahasiswa untuk Perkuat Pencegahan Karhutla Golkar Bersuara di Paripurna: BLUD Rp17 Miliar, Krisis Air Lubuk Mandarsah hingga CPO PT SMS Pastikan Kondisi Kondusif, Kepala Rutan Kelas I Tangerang Kontrol Blok Hunian Warga Binaan ‎Pemdes Pondok Agung berhasil Tekan Kemiskinan, Penerima BLT DD hanya 10 Orang

Home / Berita

Kamis, 22 Januari 2026 - 13:10 WIB

SMSI Soroti PT A4 dan Alih Alur Sungai, Bisa di Pidana

 

TEBO – Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Tebo, Adlinsyah,, SH, menegaskan bahwa dugaan pelanggaran lingkungan yang melibatkan PT Alam Anugerah Andalas Andalan (A4) dan pemilik perkebunan sawit atas nama Darmo Phang harus dilihat secara utuh dalam tiga rezim hukum, yakni hukum administrasi, perdata, dan pidana, karena menyangkut keselamatan publik, hak masyarakat, serta kelestarian lingkungan hidup.

 

Menurut Adlinsyah, dari aspek hukum administrasi, setiap kegiatan usaha yang berdampak pada lingkungan, baik pertambangan maupun perkebunan, wajib memiliki persetujuan lingkungan sebelum kegiatan dilakukan.

 

“Jika benar terdapat lubang bekas tambang yang membahayakan akses jalan masyarakat oleh PT A4, atau pemindahan alur anak sungai oleh Darmo Phang tanpa persetujuan lingkungan, maka itu merupakan pelanggaran administrasi yang serius,” tegas Adlinsyah saat dikonfirmasi media ini, Kamis 22 Januari 2026.

 

Ia menegaskan, dasar hukumnya jelas, sebagaimana Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, yang mewajibkan setiap usaha dan/atau kegiatan memiliki persetujuan lingkungan. Ketentuan ini diperkuat oleh PP Nomor 22 Tahun 2021, yang menyatakan bahwa perubahan bentang alam, termasuk galian tambang dan alur sungai, wajib melalui AMDAL atau UKL-UPL serta izin pemerintah.

BACA LAINNYA  Satgas Kesehatan TMMD Kodim Kerinci Beri Pelayanan Kesehatan kepada Warga  ‎

 

“Pelanggaran administrasi tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah daerah berwenang menjatuhkan sanksi administratif berupa paksaan pemerintah, penghentian kegiatan, hingga pencabutan izin,” ujarnya.

 

Dari sisi hukum perdata, Adlinsyah menegaskan bahwa apabila kegiatan PT A4 maupun Darmo Phang menimbulkan kerugian bagi masyarakat, seperti terancamnya keselamatan jalan, terganggunya aliran air, atau rusaknya lahan warga, maka tanggung jawab ganti rugi dapat dimintakan.

 

“Dalam hukum perdata, siapa pun yang melakukan perbuatan melawan hukum dan merugikan orang lain wajib bertanggung jawab,” katanya.

 

Hal ini sejalan dengan Pasal 1365 KUHPerdata, yang mengatur bahwa setiap perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian mewajibkan pelaku mengganti kerugian tersebut. Selain itu, Pasal 87 UU Nomor 32 Tahun 2009 juga menegaskan bahwa penanggung jawab usaha wajib melakukan pemulihan lingkungan dan/atau memberikan ganti rugi akibat pencemaran atau kerusakan lingkungan.

Sementara dari aspek hukum pidana, Adlinsyah menilai persoalan ini berpotensi masuk ke ranah pidana lingkungan apabila terbukti dilakukan tanpa izin dan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.

 

“Jika usaha dilakukan tanpa persetujuan lingkungan atau dengan sengaja merusak lingkungan, maka itu bukan lagi sekadar pelanggaran administratif, melainkan kejahatan lingkungan,” tegasnya.

BACA LAINNYA  Catat Ini Bedanya Sanksi dan Denda Tidak Bawa SIM Dengan Tidak Punya SIM 

 

Ia merujuk pada Pasal 69 ayat (1) huruf a UU Nomor 32 Tahun 2009, yang melarang setiap orang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Sanksi pidananya diatur dalam Pasal 109 UU Nomor 32 Tahun 2009, yang menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa persetujuan lingkungan dapat dipidana dengan pidana penjara dan denda.

Khusus untuk PT A4, Adlinsyah menegaskan bahwa tanggung jawab hukum tidak bisa dialihkan kepada subkontraktor.

 

“Dalam hukum pertambangan dan lingkungan, pemegang izin tetap menjadi penanggung jawab utama. Subkontraktor tidak menghapus kewajiban hukum pemilik IUP,” tegasnya.

Adlinsyah menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa SMSI Kabupaten Tebo akan konsisten mengawal kasus ini bersama DPRD dan instansi terkait demi kepentingan masyarakat.

 

“SMSI tidak berdiri untuk kepentingan kelompok atau usaha tertentu. Kami berdiri untuk kepentingan publik, keselamatan masyarakat, dan penegakan hukum. Siapa pun yang melanggar, harus bertanggung jawab sesuai hukum yang berlaku,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

Berita

Dua Alat Berat Diturunkan BPJN Jambi Lakukan Penanganan Darurat Pasca Longsor di Ruas Jalan Bangko Kerinci 

Berita

Diduga Gunakan Gelar Akademik Tanpa Hak, Oknum Caleg DPRD Muaro Jambi Terpilih Dari Partai Nasdem Dilaporkan ke Polda Jambi

Berita

Polres Tanjabbar Amankan Pelaku Pengelapan Motor Milik Bengkel, Begini Mudusnya

Berita

Kodim 0419/Tanjab Gelar Doa Bersama Dan Yasinan Di Masjid As-Syarif

Berita

Enam Camat di Tanjabbar Raih Penghargaan Camat Teladan dan Berprestasi 

Berita

TMMD Ke-123 TA 2025 Kodim 0416/Bute Resmi Ditutup

Berita

PJ Bupati Muaro Jambi Jenguk Anggota BPD Suka Damai yang Diserang Beruang

Berita

Bupati Bambang Bayu Suseno Tanggap Cepat, Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Pijoan