KERINCI – Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh resmi memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Depati Parbo Kerinci memperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung hingga Oktober 2026 dengan potensi dampak berupa kekeringan, berkurangnya pasokan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BMKG Depati Parbo Kerinci, Kurnia Ningsih, mengatakan meski musim kemarau telah dimulai, hujan masih berpeluang turun pada sore hingga malam hari dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun, dalam sepekan ke depan cuaca diperkirakan kembali didominasi kondisi kering.
“Memasuki musim kemarau, hujan masih berpotensi turun pada sore hingga malam hari. Namun dalam seminggu ke depan kondisi diperkirakan kembali kering,” ujar Kurnia, Rabu 01 juli 2026.
Ia menjelaskan, selama musim kemarau kecepatan angin cenderung meningkat. Suhu udara pada siang hari terasa lebih panas dan gerah, sementara malam hingga menjelang subuh udara menjadi lebih dingin. Kondisi tersebut dikenal masyarakat Kerinci dengan istilah begiding.
Menurut Kurnia, musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Niño lemah hingga moderat yang berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah. Dampaknya dapat berupa berkurangnya ketersediaan air bersih, terganggunya sistem pengairan lahan pertanian, serta meningkatnya jumlah titik panas yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tersebut. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghindari pembakaran sampah maupun jerami dalam jumlah besar.
“Kami mengajak masyarakat mencegah kebakaran hutan dan lahan dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api selama musim kemarau,” kata Kurnia.
Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini guna mengantisipasi dampak musim kemarau serta meminimalkan risiko bencana yang mungkin terjadi.











