JAMBI – Kepolisian Daerah (Polda) Jambi terus memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan mengedepankan strategi pre-emtif dan indirect preventive. Tak hanya melalui edukasi kepada masyarakat, Polri juga membuka ruang kolaborasi dengan kalangan mahasiswa untuk mengembangkan inovasi teknologi yang dapat mendukung sistem deteksi dini Karhutla.
Langkah tersebut disampaikan AKBP Dr. Dadang Djoko Karyanto, M.H., M.Pd., dari Ditbinmas Polda Jambi, saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif bertema “Peran Mahasiswa dalam Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Bagaimana Mahasiswa Dapat Bergerak sebagai Agen Perubahan dalam Membangun Kesadaran, Aksi Nyata, dan Menjaga Kelestarian Lingkungan”, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Jambi, Gedung Griya Mayang, kawasan Mayang Mangurai, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi, tersebut digelar bersamaan dengan kegiatan pelantikan pengurus BEM Institut Teknologi Nahdlatul Ulama (ITS-NU) Jambi.
Sekitar 60 mahasiswa dan 20 orang panitia mengikuti kegiatan tersebut. Selain AKBP Dadang, dialog menghadirkan Koordinator Daerah BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Provinsi Jambi Alfian Topian dan mantan aktivis mahasiswa UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi Muhammad Putra Romadhoni.
AKBP Dadang mengatakan, pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, kepolisian melalui fungsi Binmas dan Pemolisian Masyarakat (Polmas) terus membangun pola kemitraan dengan masyarakat, termasuk perguruan tinggi.
Menurutnya, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya kepolisian menggeser paradigma penanganan persoalan dari yang semata-mata mengandalkan penindakan menjadi pencegahan yang dilakukan bersama masyarakat.
“Strategi indirect preventif Kepolisian melalui Fungsi Binmas dan Polmas membuka ruang yang sangat luas dan inklusif bagi inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi yang dikembangkan oleh mahasiswa,” ujar AKBP Dadang.
AKBP Dadang menjelaskan, mahasiswa memiliki potensi besar untuk membantu kepolisian dalam mengembangkan teknologi pendukung pencegahan Karhutla. Salah satunya melalui pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) berbasis teknologi.
Mahasiswa yang memiliki kemampuan di bidang teknologi, misalnya, dapat mengembangkan sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendeteksi kelembapan tanah gambut, suhu udara maupun indikasi asap di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Data yang dihasilkan kemudian dapat dikembangkan agar dapat mendukung sistem pemantauan Karhutla kepolisian. Dengan demikian, potensi ancaman dapat diketahui lebih cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Data real-time dari inovasi mahasiswa dapat disinkronisasikan dengan sistem pemantauan presisi Polri. Hal ini memberikan cakupan deteksi dini hingga ke tingkat tapak atau desa yang rawan sebelum titik api membesar,” jelasnya.
Bagi Polda Jambi, penguatan pencegahan tidak hanya dilakukan melalui perangkat teknologi. Edukasi dan pembinaan masyarakat tetap menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran hukum dan kepedulian lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, AKBP Dadang juga mendorong mahasiswa untuk mengambil posisi sebagai agen perubahan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menyampaikan pesan pencegahan Karhutla melalui ruang digital, tetapi juga terlibat dalam aksi nyata di tengah masyarakat.
“Mahasiswa memegang posisi strategis sebagai agen perubahan. Lewat kesadaran hukum, pemahaman restoratif, serta aksi nyata di lapangan, Generasi Z menjadi kunci dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Pendekatan kepolisian tersebut juga diarahkan untuk membangun kesadaran sukarela masyarakat dalam mematuhi aturan. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi peer educator yang menyebarkan edukasi positif kepada lingkungan kampus maupun masyarakat.
Tidak hanya terkait Karhutla, pembinaan yang dilakukan Ditbinmas Polda Jambi juga menyentuh berbagai persoalan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, seperti penyalahgunaan narkotika atau NAPZA, kejahatan siber, judi daring hingga paham radikal.
Melalui strategi pre-emtif dan indirect preventive, kepolisian berupaya membangun pencegahan sejak dari sumber persoalan. Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai objek pengamanan, tetapi menjadi mitra yang ikut berperan dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif.
Dalam konteks Karhutla, pola kemitraan tersebut dinilai semakin penting mengingat ancaman kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak luas terhadap lingkungan, kesehatan, sosial maupun perekonomian masyarakat.
Karena itu, sinergi antara kepolisian, pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat menjadi salah satu kunci memperkuat upaya pencegahan.
Melalui kolaborasi tersebut, Polda Jambi berharap inovasi mahasiswa tidak berhenti pada gagasan akademis, tetapi dapat diarahkan menjadi solusi nyata yang mendukung tugas kepolisian dalam melakukan deteksi dini, edukasi dan pencegahan Karhutla.
Semangat yang dibangun dalam kegiatan tersebut sejalan dengan tema “Leading Change, Embracing The Future Generation” memimpin perubahan dan merangkul generasi masa depan.
Polri hadir membuka ruang, mahasiswa menghadirkan gagasan, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menjalankan aksi. Kolaborasi inilah yang diharapkan mampu memperkuat sistem pencegahan Karhutla di Provinsi Jambi secara berkelanjutan. (Viryzha)











