JAMBI – Kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui aksi besar. Dari lingkungan sekolah pun, nilai kepedulian dapat ditanamkan melalui doa, kebersamaan, dan kesadaran untuk menjaga bumi.
Semangat itulah yang ditunjukkan keluarga besar SMK Negeri 2 Kota Jambi dengan menggelar Shalat Istisqa atau shalat memohon turunnya hujan, Kamis (13/8/2026) pagi, di Lapangan Upacara SMKN 2 Kota Jambi.
Kegiatan yang diikuti guru, tenaga kependidikan, dan siswa kelas XI tersebut menjadi momentum spiritual sekaligus pendidikan karakter bagi para peserta didik. Mereka tidak hanya diajak memahami tata cara ibadah, tetapi juga diajak menyadari bahwa kondisi lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Kegiatan tersebut dipimpin di bawah kepemimpinan Dr. Woro Handayani, S.Pd., M.Pd., Kepala SMKN 2 Kota Jambi.
Bagi sekolah, shalat Istisqa bukan sekadar agenda keagamaan. Ada pesan sosial yang ingin ditanamkan kepada siswa manusia harus memiliki rasa syukur, kepedulian terhadap alam, serta kesadaran bahwa kehidupan tidak terlepas dari keseimbangan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, rangkaian acara diawali sambutan kepala sekolah, dilanjutkan tata cara Shalat Istisqa, pelaksanaan shalat, khutbah, dan doa bersama. Para peserta juga diminta membawa perlengkapan ibadah dan berwudhu dari rumah.
Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan di SMKN 2 Kota Jambi tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan keterampilan kerja. Pembentukan karakter, kepedulian sosial, serta nilai religius juga menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang memiliki kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya.
Bagi Woro Handayani, kegiatan sosial dan keagamaan tersebut menjadi ruang pendidikan yang nyata. Siswa tidak cukup hanya diajarkan untuk menjadi pintar, tetapi juga perlu dibentuk menjadi manusia yang mampu berbagi, peduli, dan hadir ketika lingkungan maupun masyarakat membutuhkan.
Semangat tersebut sejalan dengan arah pendidikan SMKN 2 Kota Jambi sebagai SMK Pusat Keunggulan, yang tidak hanya menekankan kompetensi keahlian, tetapi juga penguatan karakter peserta didik.
Shalat Istisqa akhirnya menjadi lebih dari sekadar permohonan kepada Sang Pencipta agar hujan diturunkan. Di balik barisan siswa yang menengadahkan tangan, terselip pesan sederhana namun kuat, ketika alam membutuhkan perhatian, manusia harus belajar untuk peduli.
Dari lapangan sekolah itulah nilai tersebut ditanamkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak, keterampilan harus disertai kepedulian, dan pendidikan sejatinya bukan hanya mempersiapkan anak menghadapi dunia kerja, tetapi juga mempersiapkan mereka menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya. (Viryzha)











