Bidik Indonesia news-TEBO, JAMBI – Tragedi tewasnya seorang anak Suku Anak Dalam (SAD) di Tebo Ilir, Jambi, menyisakan duka mendalam dan menguak ketimpangan yang selama ini membayangi kehidupan masyarakat adat di wilayah tersebut.
Kejadian ini bermula dari dugaan pencurian berondol sawit yang berujung pada aksi kekerasan brutal yang menewaskan seorang anak SAD. Dua tersangka telah ditangkap, namun bayang-bayang pelaku lain yang masih bebas berkeliaran.
Tragedi ini berawal dari sebuah sosialisasi yang dihadiri warga petani, petugas keamanan PT Makin, dan aparat kepolisian. Pemerintah Desa, pemerintah kecamatan termasuk karyawan PT sku dan juga hadir dari koramil sungai bengkal.
Saat dua anak suku dalam melintas kemudian Massa mencar melakukan pengejaran terhadap anak suku dalam (SAD). Pemukulan terjadi secara brutal di dekat jembatan Sungai Kemang, mengakibatkan tewasnya salah satu korban. Di lokasi kejadian, massa berjumlah kurang lebih 50 orang kata sumber.
Menurut pengakuan saksi mata yang melihat dan menyaksikan langsung peristiwa itu, terdapat beberapa orang yang terlibat dalam kejadian tersebut, adalah masa ada dari masyarakat dan security PT Makin bukan dari tambora saja. Saksi mata tersebut memberikan kesaksian tentang kejadian yang terjadi.
Beberapa saksi mata menyebutkan adanya dugaan keterlibatan pengurus koperasi dan penyediaan tongkat rotan oleh PT Makin untuk digunakan dalam penyerangan dan menghalau anak suku dalam. Pengakuan beberapa saksi mata yang mengaku ikut serta dalam undangan sosialisasi menghalau anak suku dalam itu bukan atas perintah perusahaan, melainkan atas inisiatif sendiri, mengungkap adanya solidaritas sebagai petani kelapa sawit.
Pihak kepolisian telah menyerukan kepada para pelaku yang masih buron untuk menyerahkan diri. Investigasi menyeluruh harus dilakukan untuk mengungkap seluruh jaringan pelaku dan motif di balik tragedi ini.











