JAMBI – Ratusan bibit pohon ditanam di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Pinang Masak, Kota Jambi, Rabu (12/8/2026). Namun, kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke-1 Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol itu bukan sekadar seremoni menanam pohon.
Di balik setiap bibit yang ditanam, terselip pesan sederhana, alam tidak cukup hanya dihijaukan, tetapi juga harus dirawat agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Penanaman rumpun bambu dan pohon produktif tersebut dilaksanakan secara serentak di wilayah Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, meliputi Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.
Di Provinsi Jambi sendiri. Kegiatan ini dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Jambi, Wakapolda Jambi, jajaran TNI-Polri, pemerintah daerah, kelompok tani, komunitas lingkungan, pemuda serta masyarakat.
Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin menjelaskan, gerakan penghijauan tersebut merupakan bagian dari upaya bersama untuk memulihkan lingkungan sekaligus mengurangi dampak kerusakan alam.
“Yang kita laksanakan hari ini adalah penanaman pohon secara serentak di wilayah Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, yakni Sumatera Barat dan Jambi,” ujarnya.
Menurutnya, penanaman bambu menjadi salah satu fokus utama di wilayah Sumatera Barat sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan pascabencana banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari rehabilitasi untuk memulihkan lingkungan dan melestarikan alam yang baru-baru ini mengalami kerusakan. Karena itu, upaya pemulihan dilakukan secara serentak,” katanya.
Tak kurang dari 2.650 pohon ditanam secara serentak dalam kegiatan tersebut. Jenis tanaman yang ditanam terdiri atas bambu dan berbagai tanaman keras lainnya.
Jumlah itu mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan luasnya kawasan yang membutuhkan penghijauan. Namun, menurut Danrem Brigjen TNI Nyamin , gerakan tersebut menjadi langkah nyata untuk memulai kembali upaya memperbaiki lingkungan.
“Harapannya dengan penanaman pohon ini kita bisa menjaga dan melestarikan lingkungan. Kerusakan yang sudah terjadi paling tidak sedikit demi sedikit kita pulihkan, sehingga dampak bencana ke depan mudah-mudahan dapat dikurangi,” tuturnya.
Di Jambi, semangat yang sama digaungkan melalui kolaborasi berbagai elemen. Mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, perguruan tinggi, kelompok tani, komunitas lingkungan hingga masyarakat dilibatkan agar kegiatan tidak berhenti setelah bibit masuk ke tanah.
Pihak penyelenggara juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut mengambil bagian, di antaranya kelompok masyarakat di kawasan Imam Bonjol, kelompok tani, para pemuda serta Srikandi Hutan Alam di setiap lokasi penanaman.
Sebab, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah kegiatan penanaman selesai.
Bibit harus disiram, dijaga, dipelihara dan dipastikan tumbuh. Dengan kata lain, keberhasilan program tidak diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam hari ini, tetapi berapa banyak yang mampu bertahan dan tumbuh menjadi bagian dari ekosistem di masa mendatang.
“Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh komitmen kita untuk terus merawat dan memelihara tanaman agar tumbuh sehat dan memberikan manfaat secara berkelanjutan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Sinergi lintas sektor pun dinilai menjadi kunci. Kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, Polri, perguruan tinggi, kelompok tani, komunitas lingkungan dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada momentum HUT Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol.
Lebih jauh, gerakan penghijauan ini diharapkan menjadi budaya bersama dalam menjaga lingkungan.
Karena satu pohon mungkin tidak langsung mengubah wajah bumi. Tetapi ketika ribuan pohon ditanam, dirawat dan tumbuh bersama, dari sanalah harapan untuk lingkungan yang lebih sehat mulai dibangun.
Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang belum lahir. (Viryzha)











