Oleh: [Dhea Viryzha]
Jambi— Di balik seragam gagah dan tugas negara yang tak kenal waktu, tersimpan sebuah dilema yang kerap tak tampak di permukaan, yaitu Pertarungan batin antara loyalitas pada negara dan cinta tak terbagi untuk keluarga tercinta.
Di balik seragam itu semua tersembunyi riak-riak emosi yang tak mudah dibendung. Bagi sebagian anggota Polri, tugas bukan sekadar soal keamanan dan kedisiplinan tetapi juga soal pengorbanan yang sering kali tak terlihat oleh mata publik.
Kombes Pol Boy Sutan Binanga Siregar, yang kini menjabat sebagai Kapolresta Jambi, adalah satu dari banyak anggota kepolisian yang harus berdiri di persimpangan antara panggilan negara dan pelukan hangat keluarga. Ketika negara memanggil, ia tak punya pilihan selain meninggalkan kenyamanan rumah demi memenuhi tanggung jawab.
Bagi banyak anggota kepolisian di Indonesia, menjalani dua peran ini sering kali seperti berdiri di dua sisi jurang yang tak mudah dijembatani.
Kisah yang mencerminkan pertempuran emosi ini datang dari Kombes Pol Boy Sutan Binanga Siregar, seorang perwira menengah yang pernah menjabat sebagai Wadansat Brimob Polda Jambi.
Kombes Pol Boy Sutan Binanga Siregar mengisahkan getirnya meninggalkan keluarga demi panggilan tugas ke wilayah rawan konflik seperti Papua, sebuah pengalaman yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga air mata. Selama kurang lebih 6 bulan di Papua, dalam medan yang penuh tantangan , dirinya harus tetap berdiri kokoh demi keluarga yang menanti kembali dan kedamaian masyarakat.

Tangis Haru Sang Buah Hati, Yang Harus Berpisah Sementara Waktu Dengan sang Ayah Kombes Pol Boy Sutan Binanga Siregar
“Anak saya pernah menangis tersedu-sedu ketika tahu saya ditugaskan ke Papua. Bahkan, saat istri saya sakit, saya tetap harus berangkat. Demi negara, saya rela meninggalkan semuanya,” ujar Boy dengan nada haru.
Lanjut Boy, “Saya tetap berusaha kuat. Ini tugas negara, dan saya harus meyakinkan keluarga bahwa saya akan baik-baik saja dan segera kembali.

Langkah Tegas di Tanah Konflik, Kombes Pol Boy Sutan Binanga Siregar bersama personel saat melaksanakan tugas BKO di Papua saat dirinya menjabat sebagai Wadansat Brimob Polda Jambi. Di tengah medan berat dan panas terik, semangat pengabdian tetap menyala demi menjaga keamanan dan keutuhan NKRI
Di tanah rantau yang penuh dengan dinamika sosial dan ancaman terorisme, Kombes Pol Boy menjalankan tugasnya dengan tekad bulat. Namun, di balik ketegasan dan strategi, ada kerinduan yang tak kunjung padam.
“Kerinduan akan keluarga itu tidak pernah hilang. Untuk mengobatinya, saya berolahraga, menulis, dan berbicara dengan keluarga lewat HP. Hanya itu jendela kecil saya untuk tetap terhubung,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak menampik bahwa tekanan mental dan emosional adalah konsekuensi dari seragam yang ia kenakan.
Menurutnya, dilema antara tugas dan keluarga adalah realitas yang tak bisa dihindari oleh para aparat. Bahkan, jika tidak dikelola dengan baik, tekanan semacam ini bisa menggerus ketahanan mental dan menurunkan performa kerja.
“Polisi bukan hanya aparat negara. Kami juga manusia biasa, punya keluarga, dan punya perasaan.” Kalau tidak kuat, bisa jadi luka batin yang panjang,” tegas ayah dari tiga anak ini.
Boy menilai bahwa apa yang ia dan rekan-rekannya hadapi merupakan bagian dari pengorbanan besar yang jarang diketahui publik. Mereka harus mengubur keinginan sederhana , seperti merayakan ulang tahun anak, mendampingi istri saat sakit, perayaan hari besar, atau sekadar makan malam bersama keluarga.

Kombes Pol Boy Sutan Binanga Siregar tampak sedang berinteraksi secara humanis dan penuh keakraban dengan masyarakat lokal saat menjalankan tugas di Papua. Ia dan rekan-rekan personel TNI-Polri terlihat tersenyum dan tertawa bersama seorang warga setempat, mencerminkan pendekatan yang hangat, empati, dan membangun kedekatan emosional dalam menjaga keamanan wilayah.
Di balik operasi pengamanan dan penanganan konflik bersenjata, ada rindu yang dipendam. Ada air mata yang tak sempat jatuh. Ada cinta yang sementara harus dikesampingkan demi tugas suci menjaga tanah air.
Namun, Boy tidak menyesali pilihannya. Ia percaya bahwa setiap tetes keringat dan air mata yang ia korbankan adalah bentuk cinta pada negeri, meskipun seringkali ia harus mengorbankan waktu berharga bersama keluarga.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Negara ini butuh dijaga.” Namun semoga masyarakat juga tahu, bahwa di balik seragam ini, kami juga berjuang di medan yang tak kasat mata, yaitu medan perasaan dan batin,” pungkasnya.
Dalam wajah tegasnya di institusi yang selama ini dikenal tegas dan disiplin, ternyata ada sisi lembut yang menyimpan banyak cerita kemanusiaan, bahkan menguras air mata.
Cerita tentang pengabdian tanpa batas, dan cinta yang tetap menyala meski harus berjarak. Polisi bukan sekadar penegak hukum. Mereka adalah ayah, suami, dan anak yang juga merindu, mencintai, dan mendambakan kehangatan keluarga.











