Sungai Penuh – Kenaikan harga plastik secara nasional mulai menjadi perhatian berbagai kalangan. Pada April 2026, harga plastik dilaporkan melonjak signifikan hingga 50 hingga 150 persen akibat terganggunya pasokan bahan baku, seperti nafta dan biji plastik, yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku usaha, terutama pedagang pasar dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kenaikan harga plastik kresek, misalnya, turut mendorong penyesuaian harga jual barang di sejumlah pasar tradisional.
Di sejumlah daerah, dampak kenaikan ini mulai dirasakan secara bertahap. Meski demikian, untuk wilayah Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, belum ada laporan resmi terkait lonjakan harga plastik yang signifikan. Namun, para pedagang diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan dalam waktu dekat.
Sejumlah pelaku usaha mengaku kenaikan harga plastik akan berpengaruh pada biaya operasional, terutama bagi usaha yang masih bergantung pada kemasan plastik. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga barang kebutuhan sehari-hari ikut mengalami kenaikan.
Di sisi lain, kondisi ini dinilai dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Masyarakat diharapkan mulai beralih menggunakan tas belanja ramah lingkungan sebagai langkah mengurangi sampah plastik.
Pemerintah dan pihak terkait juga diharapkan dapat memberikan solusi alternatif serta menjaga stabilitas harga agar tidak terlalu membebani masyarakat.











