LHOKSEUMAWE – Suasana penuh kesejukan dan kekhidmatan menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe, Minggu (10/8/2026). Di tengah terik matahari, hadirnya ulama karismatik Abu H. Muhammad Ali atau Abu Di Paya Pasi memberikan kesejukan tersendiri saat menyampaikan mauidlotul hasanah kepada seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), sekaligus melaksanakan peusijuk Lapas Kelas IIA Lhokseumawe yang baru.
Kehadiran Abu Di Paya Pasi menjadi momentum bermakna bagi jajaran dan warga binaan. Dengan tutur kata lembut dan nasihat sarat nilai keislaman, beliau mengajak seluruh WBP menjadikan kehidupan di dalam Lapas bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan ruang untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, bermuhasabah, dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Dalam tausiyahnya, Abu Di Paya Pasi mengangkat ibrah dari perjalanan hidup Nabi Yusuf AS.
“Ujian, penderitaan, fitnah, kehilangan, bahkan keterasingan bukanlah pertanda Allah SWT meninggalkan hamba-Nya. Di balik setiap ujian ada hikmah, pembentukan kesabaran, serta jalan menuju kemuliaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana Nabi Yusuf yang bermula dari sumur dan hidup terasing, akhirnya meraih kemuliaan. Hal itu menjadi pengingat agar warga binaan tidak berputus asa dalam keadaan sulit.
Abu juga menekankan pentingnya menjaga shalat sebagai kunci kehidupan.”Jangan tinggalkan shalat. Karena shalat itulah yang menjadi pegangan ketika kehidupan kita sedang diuji,” pesannya.
Selain itu, beliau mengingatkan hakikat syukur yang tidak hanya diucapkan lewat “Alhamdulillah”, tetapi juga dengan menerima ketentuan Allah, menggunakan kesempatan untuk berbuat baik, dan tidak menyia-nyiakan nikmat sekecil apa pun.
Lebih jauh, Abu mengajak warga binaan melakukan muhasabah dengan mengingat wajah orang tua, keluarga, anak, dan istri. Kenangan itu, katanya, dapat menjadi jalan mengetuk pintu hati, perantara untuk bertaubat, sekaligus benteng agar tidak kembali terjerumus pada perbuatan batil setelah bebas.
Dalam prosesi peusijuk, doa dipanjatkan agar Lapas Kelas IIA Lhokseumawe senantiasa dalam lindungan Allah SWT, diberi keberkahan, dijauhkan dari marabahaya, serta menjadi tempat yang membawa kebaikan bagi jajaran dan warga binaan.
Kehadiran Abu Di Paya Pasi menegaskan bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya soal pembinaan fisik dan administratif, tetapi juga menyentuh dimensi hati dan spiritualitas.
“Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, masa kini sebagai kesempatan untuk bertaubat, dan masa depan sebagai jalan untuk menjemput ridha Allah SWT,” pungkas Abu Di Paya Pasi.
Acara ini menjadi ruang perjumpaan antara nasihat dan hati, antara penyesalan dan harapan, serta titik tumbuh kesadaran baru bagi seluruh warga binaan Lapas Kelas IIA Lhokseumawe.











