Oleh : Viryzha
JAMBI – Beberapa pekan terakhir, Kota Jambi seperti sedang menerima sebuah pesan keras yang tidak boleh diabaikan. Pesan itu datang bukan melalui spanduk atau papan pengumuman, melainkan dari jalanan, tawuran antarkelompok, konvoi pelajar, aksi kebut-kebutan hingga kekerasan yang berujung hilangnya nyawa.
Yang lebih memprihatinkan, sejumlah peristiwa tersebut melibatkan anak-anak dan pelajar. Seperti tragedi tawuran di kawasan WTC Batanghari, Jalan Sultan Thaha, Kota Jambi, pada Sabtu (15/8/2026), menjadi titik paling memilukan. Seorang remaja berinisial MDH, 16 tahun, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban kekerasan dalam bentrokan antarkelompok.
Polisi mengungkap, aksi tersebut bermula dari saling tantang melalui media sosial. Dalam perkembangannya, polisi mengamankan 13 orang yang terdiri atas orang dewasa dan anak-anak dengan peran berbeda.
Belum selesai masyarakat mencerna tragedi tersebut, pada Senin (17/8/2026), Polresta Jambi kembali melakukan penindakan terhadap rombongan pelajar yang melakukan konvoi di sejumlah ruas jalan Kota Jambi.
Sebanyak 33 sepeda motor diamankan. Para pelajar tersebut berasal dari sejumlah sekolah menengah di Kota Jambi. Polisi menyebut penindakan dilakukan sebagai langkah pencegahan agar aksi konvoi tidak berkembang menjadi gangguan keamanan maupun membahayakan pengguna jalan.
Yang ketiga peristiwa duel pada 22 Agustus 2026 yang melibatkan dua pelajar di kota Jambi yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia setelah sempat kejang-kejang akibat duel tersebut.
Tiga peristiwa tersebut memang berbeda. Namun, ada benang merah yang sama anak-anak dan remaja berada semakin dekat dengan perilaku berisiko yang dapat membawa konsekuensi sangat serius.
Bukan Lagi Sekedar Kenakalan Remaja
Direktur Pengembangan Usaha Siber Media SMSI Pusat, Viryzha, menilai fenomena tersebut tidak boleh lagi dipandang semata-mata sebagai kenakalan remaja.
Menurutnya, ketika perilaku anak sudah masuk pada tawuran, pengeroyokan, konvoi berbahaya, penggunaan benda berbahaya hingga menyebabkan korban jiwa, maka seluruh elemen masyarakat harus melihatnya sebagai persoalan serius yang membutuhkan penanganan bersama.
“Kita jangan sampai hanya sibuk ketika sudah terjadi korban. Anak-anak ini harus kita selamatkan sebelum mereka menjadi korban maupun sebelum mereka berubah menjadi pelaku.”
Viryzha mengatakan, ketika anak berani keluar pada dini hari untuk mengikuti ajakan tawuran dan berhadapan dengan kelompok lain, persoalannya tidak lagi hanya berada di tangan kepolisian.
Ada keluarga, Ada sekolah, Ada lingkungan, Ada pemerintah Dan ada masyarakat yang harus ikut mengambil tanggung jawab.
“Ketika seorang anak sudah berani keluar dini hari untuk mengikuti ajakan tawuran, membawa benda berbahaya dan berhadapan dengan kelompok lain, berarti ada persoalan yang harus kita jawab bersama, bukan hanya oleh kepolisian, tetapi juga keluarga, sekolah, pemerintah serta lingkungan,” ujarnya.
Media Sosial, Dari Ruang Pertemanan Menjadi Ruang Tantangan
Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan dari kasus WTC adalah penggunaan media sosial sebagai pintu awal terjadinya konflik.
Polisi mengungkap, tawuran bermula dari unggahan Instagram yang kemudian berkembang menjadi saling tantang antarkelompok hingga akhirnya mereka bertemu di kawasan WTC Batanghari.
Di sinilah persoalan menjadi semakin kompleks. Anak-anak hari ini tidak hanya berinteraksi di sekolah dan lingkungan rumah. Mereka juga hidup dalam ruang digital yang berlangsung hampir 24 jam.
Satu unggahan dapat dilihat banyak orang. Satu tantangan dapat menyebar dengan cepat. Satu komentar dapat memancing emosi. Dan sebuah perselisihan yang awalnya hanya berada di layar telepon dapat berakhir di jalanan.
Viryzha mengingatkan agar media sosial tidak berubah menjadi ruang untuk membangun keberanian semu.
“Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk belajar, berkarya dan berprestasi. Jangan sampai justru berubah menjadi ruang untuk saling menantang, mengajak tawuran dan membangun keberanian semu. Anak-anak perlu didampingi dalam menggunakan media sosial, bukan sekedar dilarang,” katanya.
Orang Tua Harus Menjadi Benteng Pertama
Menurut Viryzha, pencegahan paling awal harus dimulai dari rumah. Pengawasan orang tua bukan berarti mencurigai setiap aktivitas anak. Namun, orang tua harus mengenal dunia anaknya. Dengan siapa dia berteman, komunitas apa yang diikuti, Apa yang dilakukan ketika keluar rumah, Apa yang dilihat di media sosial, Dan yang paling penting, apakah ada perubahan perilaku yang sedang terjadi.
“Orang tua jangan hanya bertanya, ‘Kamu pulang jam berapa?’ Tetapi juga bertanya, ‘Kamu pergi dengan siapa, ada apa, dan apakah ada masalah yang sedang kamu hadapi?’ Anak yang merasa didengar akan lebih mudah bercerita. Di situlah pencegahan bisa dimulai,” tuturnya.
Sebab, kedekatan emosional orang tua dan anak menjadi salah satu faktor pencegahan yang paling efektif, namun terkadang yang sering kita tidak ketahui bahwa tanda-tanda awal persoalan sudah terlihat jauh sebelum seorang anak terlibat tawuran.
Tanda- tanda tersebut dapat berupa Perubahan emosi, Perubahan pergaulan, Sering keluar malam, Mulai menutup diri, Atau tiba-tiba memiliki kelompok pertemanan yang tidak dikenal orang tua.
Hal-hal kecil tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai fase biasa. Sekolah Jangan Hanya Menunggu Anak Datang ke Kelas, Sekolah juga memiliki posisi penting, Guru dan tenaga pendidik merupakan pihak yang dapat melihat perubahan anak secara langsung.
Karena itu, penguatan guru BK, komunikasi dengan orang tua dan deteksi dini terhadap perilaku siswa harus menjadi bagian dari sistem pendidikan.
Peristiwa konvoi pelajar pada 17 Agustus lalu menjadi contoh bahwa pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar lingkungan sekolah juga perlu mendapat perhatian. Polisi menemukan rombongan pelajar dari sejumlah sekolah melakukan konvoi di jalan raya dan mengamankan 33 sepeda motor.
Viryzha menegaskan, fenomena seperti itu tidak boleh hanya dianggap sebagai aksi bersenang-senang.
“Ini bukan lagi fenomena yang boleh dianggap sebagai kenakalan biasa. Kalau sudah mengganggu keselamatan pengguna jalan, berpotensi memicu bentrokan dan melibatkan anak-anak sekolah, maka harus ada intervensi bersama sejak awal,” tegasnya.
Jangan Hanya Membubarkan, Tetapi Putus Rantainya, Penindakan aparat tetap diperlukan, Ketika ada kekerasan, hukum harus berjalan.
Ketika ada tindakan yang membahayakan masyarakat, aparat harus hadir, Namun, persoalan tidak boleh selesai setelah anak dibubarkan atau kendaraan diamankan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah itu?
Anak yang terlibat harus diberikan pembinaan serius, Keluarga harus dilibatkan, Sekolah harus mengetahui, Dan lingkungan harus ikut mengawasi.
Tujuannya bukan hanya membuat anak takut kepada polisi, tetapi membuat mereka memahami bahwa kekerasan memiliki konsekuensi bagi diri sendiri dan orang lain.
“Polisi harus tegas terhadap anak-anak yang melakukan kekerasan bahkan menyebabkan korban jiwa, namun meskipun tegas harus sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan, dan juga anak-anak yang terlibat juga harus dibina. Jangan sampai mereka hanya takut kepada polisi, tetapi tidak memahami mengapa perbuatannya salah. Tujuan akhirnya bukan sekedar membubarkan kelompok, tetapi memutus rantai perilakunya,” ujar Viryzha.
Anak Butuh Ruang untuk Menjadi Hebat
Salah satu persoalan yang juga harus dijawab adalah bagaimana menyediakan ruang positif bagi anak muda.
Anak membutuhkan tempat untuk berkumpul, Mereka membutuhkan komunitas, Mereka membutuhkan rasa diterima, Mereka membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan.
Jika ruang tersebut tidak tersedia, bukan tidak mungkin mereka mencari pengakuan di tempat lain.
Karena itu, olahraga, seni, komunitas kreatif, kegiatan sosial, kewirausahaan muda, organisasi pelajar dan kegiatan kepemudaan harus diperkuat.
Viryzha mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan lebih banyak pilihan positif kepada anak-anak.
“Kita harus memberikan anak-anak pilihan. Kalau ruang positifnya sedikit, sementara ruang pergaulan negatif begitu mudah ditemukan, jangan heran kalau mereka mencari identitas di kelompok yang salah,” katanya.
Media Jangan Hanya Memberitakan Ketika Sudah Ada Korban
Sebagai bagian dari ekosistem media siber, Viryzha juga menilai pers memiliki tanggung jawab dalam membangun kesadaran publik.
Pemberitaan mengenai anak harus tetap mengedepankan kepentingan anak dan tidak mengeksploitasi identitas anak yang berhadapan dengan hukum.
Namun, media juga harus berani mengangkat sisi pencegahan.
“Media jangan hanya memberitakan ketika sudah ada darah dan korban. Media juga harus menjadi bagian dari solusi. Beritakan bahayanya, berikan edukasi kepada orang tua, dorong sekolah bergerak, dan angkat anak-anak yang berprestasi sebagai contoh bahwa menjadi keren itu tidak harus dengan tawuran atau kekerasan,” ujarnya.
Forkopimda dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama
Pemerintah Kota Jambi telah menyatakan dukungan terhadap proses hukum kasus tawuran yang menewaskan remaja tersebut dan mendorong kolaborasi untuk mencegah kejadian serupa. Pemkot juga akan berkoordinasi dengan Forkopimda terkait rencana edaran jam malam bagi anak.
Langkah tersebut harus diikuti dengan sistem pencegahan yang lebih kuat. Patroli di titik rawan, Pemetaan kelompok berisiko, Pengawasan lingkungan, Penguatan komunikasi sekolah dan orang tua, Pembinaan anak yang terlibat, Serta edukasi penggunaan media sosial.
Semua pihak harus berada dalam satu barisan. Polisi tidak mungkin bekerja sendirian. Sekolah tidak mungkin bekerja sendirian. Orang tua juga tidak mungkin bekerja sendirian, Anak-anak harus dijaga bersama.
Jangan Tunggu Korban Berikutnya
Kematian seorang remaja berusia 16 tahun dan berusia 14 tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi besar bagi Kota Jambi.
Jangan biarkan kasus ini hanya menjadi berita yang ramai beberapa hari, kemudian hilang ditelan pemberitaan berikutnya.
Di balik seorang anak yang meninggal, ada keluarga yang kehilangan. Ada orang tua yang kehilangan masa depan anaknya. Ada teman yang kehilangan sahabat. Dan ada masa depan yang berhenti sebelum waktunya.
Karena itu, pencegahan harus dimulai sekarang. Jangan menunggu tawuran berikutnya. Jangan menunggu anak berikutnya menjadi korban. Jangan menunggu anak berikutnya menjadi pelaku. Orang tua harus lebih dekat, Sekolah harus lebih peka, Lingkungan harus lebih peduli, Pemerintah harus menyediakan ruang positif, Aparat harus tegas, Dan media harus terus mengedukasi.
Viryzha menutup pandangannya dengan sebuah pesan yang sederhana, tetapi sangat penting.
“Dua nyawa anak yang hilang sudah terlalu mahal. Jangan sampai kita baru bergerak setelah ada korban berikutnya. Kota Jambi harus punya komitmen bersama, anak-anak kita harus pulang ke rumah dengan selamat, bukan pulang sebagai korban kekerasan atau sebagai pelaku tindak pidana.”
Sebab pada akhirnya, menjaga keamanan Kota Jambi bukan hanya soal menjaga jalan agar bebas dari tawuran atau berandalan bermotor.
Menjaga Kota Jambi berarti menjaga anak-anaknya agar tetap memiliki masa depan. Karena menjaga anak hari ini, berarti menjaga masa depan Kota Jambi esok hari.











