Aceh Timur – Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Timur, turut menyisakan keprihatinan mendalam bagi para pekerja media dan penggiat sosial. Mereka merasa keberadaan dan peran pentingnya kerap luput dari perhatian pemerintah, terutama saat berada di garis depan menyampaikan informasi kepada publik.
Hal ini disampaikan oleh T. Baharuddin alias Wen Kopral pada Kamis malam, 4 Desember 2025. Ia menegaskan bahwa para insan pers selama ini bekerja secara sukarela, tanpa gaji, namun tetap konsisten memberitakan kejadian-kejadian penting demi kemajuan Aceh Timur.
> “Profesi kami sebagai insan pers dan penggiat sosial dilakukan dengan sukarela, tanpa imbalan apa pun. Kami terus menayangkan berita untuk kemajuan Aceh Timur. Tetapi dalam bencana besar kali ini, kami benar-benar merasa dipandang sebelah mata,” ungkap Baharuddin.
Menurutnya, para jurnalis bukan hanya bekerja memberitakan kondisi masyarakat, tetapi mereka sendiri juga bagian dari masyarakat yang terdampak.
“Kami juga rakyat, sama seperti yang lain. Setelah menjalankan tugas kami, puluhan insan pers di Aceh Timur kini terancam kelaparan. Para pejabat memang turun ke lapangan siang malam tanpa pamrih, tapi keluarga mereka dalam keadaan tercukupi. Sedangkan anak dan istri kami dalam kondisi kelaparan,” tambahnya dengan nada kecewa.
Ia berharap pemerintah daerah lebih peka terhadap kondisi para jurnalis dan penggiat sosial yang turut menjadi korban dalam bencana ini.











